10:42 AM
-
journal review
,
learn
No comments
journal review
,
learn
No comments
MSMB: Journal Review "Factors that Trigger Financial Crises: The Case of Turkey"
Review Jurnal "Factors that Trigger Financial Crises: The Case of Turkey". Funda Yurdakul (Gazi University, Faculty of Economics and Administration Sciences Ankara Turkey) Procedia – Social and Behavioral Sciences 109 (2014) 896 - 901 Available online at www.sciencedirect.com
Krisis finansial merupakan topik yang
menarik untuk dikaji karena insidennya tidak terisolasi hanya pada negara
berkembang saja, melainkan juga pada negara maju. Lazimnya pasca krisis, ekonom
‘berlomba’ menyajikan penjelas/penyebab krisis guna memastikan terdapat
pelajaran yang dapat dipetik (lesson
learned) sebagai salah satu bekal dalam mencegah terulangnya krisis yang
sama. Kendati history repeat itself,
seperti pesan pada buku bertajuk This
Time is Different (Reinhart & Rogoff, 2011), studi untuk memahami
krisis tetap perlu dilakukan sebagai upaya memahami bekerjanya perekonomian dan
mengantisipasi respons yang diperlukan oleh pembuat kebijakan (policy maker). Dalam konteks tersebut, Doktor
Yurdakul membuat studi yang disajikan pada 2nd World Conference on
Business, Economics, and Management tahun 2013, dengan Tujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor makroekonomi
yang mungkin telah memicu krisis finansial di Turki antara Januari 1998 dan
Juli 2012.
Hipotesis Null (H0) adalah bahwa tidak
terdapat faktor-faktor makroekonomi yang dapat menjadi pemicu krisis. Hipotesis Alternatif (Ha)
dibangun dari refleksi pemikiran bahwa terdapat kondisi lingkungan makroekonomi
mendasar yang memicu terjadinya krisis.
Metodologi yang digunakan dalam studi adalah tes non parametrik yakni
model logistik (logit) dengan
menggunakan Data nilai tukar,
NPL, suku bunga, uang beredar, indeks pasar saham (ISE-100), pertumbuhan
ekonomi, tingkat inflasi, dan tingkat pengangguran. Data NPL diperoleh dari
buletin bulanan Banking Regulation and
Supervision Agency, sementara data lainnya diperoleh dari Bank Sentral
Turki dan Turkish Statistical Institute.
Hasil penelitian menyimpulkan bahwa
uji dengan menggunakan metode logit menunjukkan bahwa hampir seluruh variabel
bebas yang dipilih, terkecuali uang beredar, secara statistik signifikan
menjadi pemicu krisis di Turki pada periode Januari 1998 sampai dengan Juli
2012. Lebih lengkapnya proses dan hasil uji adalah sebagai berikut. Pertama, sebelum
melakukan pemilihan variabel bebas, penulis melakukan analisis kritis terhadap kronologis
terjadinya krisis ekonomi yang terjadi di Turki. Sebagai small open economy, Turki tidak terisolasi dari efek rambatan
krisis Asia di 1997/98 yang kemudian dibumbui oleh kerentanan domestik seperti
luar biasa besarnya twin deficit
(defisit fiskal dan neraca transaksi berjalan) dan utang luar negeri,
meroketnya inflasi, dan over valuasi
mata uang. Cukup dalamnya tekanan, membawa Turki untuk meminta bantuan IMF pada
1999. Standar preskripsi IMF tidak serta merta membawa perbaikan pada ekonomi
Turki dimana tekanan depresiasi sedemikian kuat sehingga seperti halnya yang
terjadi di Indonesia, kenaikan suku bunga tak mampu membendung aliran modal
keluar dan permintaan terhadap likuiditas valas sehingga cadangan devisa
tergerus. Pasar keuangan bergejolak, dimana seretnya likuiditas tercermin pada
suku bunga semalam (overnight) yang
tercatat sempat mencapai 210%, di tengah pasar saham yang merosot drastis.
Otoritas tak memiliki banyak pilihan kecuali melepaskan peg nilai tukarnya. Nilai tukar yang mengambang bebas membawa konsekuensi
penyesuaian pada perilaku agen dalam perekonomian. Baru pada 2002-2006, kondisi
ekonomi dan sektor keuangan Turki pulih dan terus membaik. Namun risiko kembali
naik dengan mencuatnya Global Financial
Crisis. Permintaan luar negeri terhadap produk Turki mengalami penurunan
secara tajam, mengingat Turki adalah partner
dagang utama dari EU. Sedangkan ekonomi domestik justru sedang tumbuh terakselerasi.
Ketidakseimbangan eksternal dan internal ini untuk sementara dibiayai oleh
aliran modal dari luar negeri sejurus ‘berkah’ capital inflows yang secara serentak membanjiri emerging market. Aliran modal tersebut
membawa ekonomi kembali terpapar risiko (built
up risk), yang apabila pada waktunya memuncak menjadi rentan koreksi, bust sehingga risiko termaterialisasi dan
dapat kembali menekan kinerja perekonomian.
Dengan berbasiskan pada analisis
kritis tersebut, penulis memilah-milah dan menemukan bahwa terdapat common basic macroeconomic factors yang
menjadi penyebab krisis yakni tingkat inflasi (P), suku bunga simpanan nominal
(IR), dan nilai tukar (ER). Selain itu, ditambahkan indeks pasar saham ISE-100
(MKB), perubahan uang beredar dalam arti luas (M), tingkat pengangguran (UR),
serta pertumbuhan (Y). Tanda dari hampir seluruh variabel tersebut
diekspektasikan memiliki efek menaikkan probabilitas krisis (atau tanda
positif), terkecuali untuk variabel pertumbuhan. Model logit memprediksi
variabel dependen yang bersifat kualitatif berupa dummy dalam bentuk biner, yakni diberi angka 1 jika krisis (periode
Februari 1999 – Juni 2001; Juni 2007 - May 2008), sedangkan diberi angka 0 jika
normal (periode sisanya). Model adalah (cek link untuk materi lengkap tugas MSMB (lagi))
Variabel P, ER, IR, NPL, MKB, UR,
dan Y memiliki tanda yang sesuai dengan ekspektasi dan signifikan. Sementara
variabel M memiliki arah yang tidak sesuai dengan ekspektasi dan tidak
signifikan. Selanjutnya koefisien hasil dimasukkan ke dalam persamaan berikut
untuk memperoleh angka probabilitas krisis (cek link untuk materi lengkap tugas MSMB (lagi)). Hasilnya adalah bahwa
probabilitas krisis pada February 1999 sebesar 93%, pada November 2000 sebesar
89%, pada Januari 2001 sebesar 99%, pada Februari 2001 sebesar 99%, dan pada
Juni 2007 sebesar 80%. Angka-angka ini sejalan dengan waktu-waktu terjadinya
krisis, dengan demikian model logit secara akurat mengestimasi kemungkinan
terjadinya krisis.
REVIEW: Hasil studi ini cukup menarik dan menambah
khasanah pemahaman mengenai faktor-faktor yang dapat memicu (trigger) terjadinya krisis. Namun
demikian terminologi “memicu” tersebut dapat menjadi berbeda apabila dilihat
dari perspektif Early Warning Exercise
(IMF, 2010), yakni krisis merupakan perpaduan dari kerentanan (di perekonomian
atau sektor keuangan) dan suatu kejadian pemicu. Dalam konteks ini, kerentanan merupakan
syarat perlu, tetapi tidak cukup untuk menjadikan sebuah krisis. Kerentanan
tersebut dapat berupa membengkaknya pinjaman luar negeri, inflasi tinggi, atau twin deficit. Sementara pemicu dapat
berupa berbagai hal, seperti kondisi perpolitikan atau rambatan (contagion) dari negara tetangga Pemicu
krisis sulit diprediksi, namun aksi mendeteksi kerentanan domestik harus secara
berkala dilakukan. Bahkan dikatakan “Predicting
the timing of crisis has been widely considered a fool’s errand, and crisis
models have a dubious record in this regard” (IMF, 2010). Implikasinya adalah,
membangun model sebagaimana dilakukan oleh studi ini adalah satu hal, namun
hendaknya upaya tidak berhenti pada menangkap common basic macroeconomic factor dan membangun model berbasiskan postmortem. Perlu upaya kebijakan berkelanjutan
untuk menjaga agar common basic
macroeconomic factor berada pada level yang wajar dan tidak menjadi
risiko/kerentanan dalam perekonomian. Selain itu, menyalanya indikator kerentanan
perlu segera direspons oleh pembuat kebijakan agar tidak terjebak dalam
sindroma “this time is different”
(Reinhart & Rogoff, 2011).
Lebih lanjut, dalam pemilihan variabel bebas, perlu dicermati betul mana yang menjadi pemicu krisis --menurut definisi penulis studi— versus mana yang hanya menjadi cerminan dari krisis itu sendiri. Sebagai misal, penggunaan variabel ISE-100 atau indeks di pasar saham dan tingkat pengangguran, dapat saja merupakan cermin atau dampak dari krisis di pasar keuangan dan perekonomian riil. Adapun penggunaan variabel bebas berupa uang beredar dan inflasi berpotensi saling berkorelasi. Dalam konteks ini, dapat salah satunya saja yang dipilih (uang beredar saja atau inflasi saja). Concern selanjutnya adalah tidak signifikannya koefisien pada variabel uang beredar, pertanyaannya apakah koefisien yang tidak signifikan tersebut kemudian dimasukkan ke dalam penghitungan akhir probabilitas krisis. Terakhir, pengayaan kajian dapat dilakukan dengan meng-exercise model probit, lalu membandingkannya dengan logit. Kendati terdapat klaim bahwa ”there exists hardly any difference between the results of the two (Paap & Franses 2000), dengan data yang lebih ekstensif dimungkinkan untuk menelurkan hasil bervariasi dimana pemilihan yang lebih baik dapat berbasiskan pada likelihood (atau log likelihood) atau AIC.
Selengkapnya dapat dilihat disini tugas MSMB (lagi)
0 comments :
Post a Comment