"Bisa merasa lebih baik dari merasa bisa..."
Seorang guru pernah berpesan bahwa agar bisa merasa, kuasailah
piranti lunak yang bernama DOA: Detect,
Observe, dan Accept.
Dalam tiap helaan nafas, deteksi (detect) kecamuk rasa yang terlintas. Pantau (observe) eksistensinya apakah ia bermuatan nafsu ingin berkuasa (jenis
emosi: amarah), atau bersumber dari rasa ingin dicintai/dihargai (jenis emosi: galau),
atau karena nafsu ingin selamat (jenis emosi: takut). Setelah terpetakan, mulai
tahap penerimaan (acceptance) dengan mengakui, mengijinkan rasa itu untuk hadir, peluk,
lalu lalu bebaskan ikhlaskan ia untuk pergi.
Bisa merasa akan menjadikan diri ini pada posisi sadar (conscious), baik sadar akan keberadaan
Tuhan, sadar akan berbagai peristiwa yang melingkupi diri, serta termasuk sadar
bahwa masalah adalah masanya Allah untuk menata hidup kita.
Proses menuju bisa merasa niscaya membuka cakrawala bahwa untuk
menguasai percepatan, justru harus belajar memperlambat. Iso meneng, Iso
ngerasakke, Iso paham. Bisa diam, bisa merasakan, dan pada gilirannya bisa paham.
Lalu apakah tidak boleh merasa bisa?
Sah-sah saja merasa bisa, sepanjang sambil jalankan piranti
DOA-nya. Kenali betul bisikan nafsu/ego apa yang muncul saat merasa bisa. Jika keberadaan
apapun itu telah di-nol-kan, merasa bisa menjadi terejawantahkan dalam
kesadaran.
Kesadaran memudahkan kita memahami bahwa tidak ada sesuatu yang
kebetulan dalam hidup ini, semua sudah digariskan. Pun termasuk membuat blog
ini, yang sejatinya menjadi ajang belajar paripurna hati, nurani, jiwa dan
kepala agar senantiasa tunduk dalam sabar dan syukur.
Salam bisa merasa,
Kiki
12 Desember 2015
Epilogue: tulisan ini merupakan pengingat diri sekaligus awal dari pemenuhan tugas MRBL dari http://www.sb.ipb.ac.id/ untuk membuat blog
(halaaaah J J J)
1 comments :
Lebbeeee
Post a Comment