Saturday, December 12, 2015

"Bisa merasa lebih baik dari merasa bisa..."

Seorang guru pernah berpesan bahwa agar bisa merasa, kuasailah piranti lunak yang bernama DOA: Detect, Observe, dan Accept.

Dalam tiap helaan nafas, deteksi (detect) kecamuk rasa yang terlintas. Pantau (observe) eksistensinya apakah ia bermuatan nafsu ingin berkuasa (jenis emosi: amarah), atau bersumber dari rasa ingin dicintai/dihargai (jenis emosi: galau), atau karena nafsu ingin selamat (jenis emosi: takut). Setelah terpetakan, mulai tahap penerimaan (acceptance) dengan  mengakui, mengijinkan rasa itu untuk hadir, peluk, lalu lalu bebaskan ikhlaskan ia untuk pergi.

Bisa merasa akan menjadikan diri ini pada posisi sadar (conscious), baik sadar akan keberadaan Tuhan, sadar akan berbagai peristiwa yang melingkupi diri, serta termasuk sadar bahwa masalah adalah masanya Allah untuk menata hidup kita.

Proses menuju bisa merasa niscaya membuka cakrawala bahwa untuk menguasai percepatan, justru harus belajar memperlambat. Iso meneng, Iso ngerasakke, Iso paham. Bisa diam, bisa merasakan, dan pada gilirannya bisa paham.

Lalu apakah tidak boleh merasa bisa?
Sah-sah saja merasa bisa, sepanjang sambil jalankan piranti DOA-nya. Kenali betul bisikan nafsu/ego apa yang muncul saat merasa bisa. Jika keberadaan apapun itu telah di-nol-kan, merasa bisa menjadi terejawantahkan dalam kesadaran.

Kesadaran memudahkan kita memahami bahwa tidak ada sesuatu yang kebetulan dalam hidup ini, semua sudah digariskan. Pun termasuk membuat blog ini, yang sejatinya menjadi ajang belajar paripurna hati, nurani, jiwa dan kepala agar senantiasa tunduk dalam sabar dan syukur.

Salam bisa merasa,
Kiki
12 Desember 2015

Epilogue: tulisan ini merupakan pengingat diri sekaligus awal dari pemenuhan tugas MRBL dari http://www.sb.ipb.ac.id/ untuk membuat blog (halaaaah J J J)


1 comments :

Post a Comment